Tuesday, September 28, 2010

Untuk APA kita belajar??

Kita belajar kerana Allah. Untuk kenal Allah dan untuk rasa rendah diri pada Allah.Semakin kita belajar semakin rasa cetek ilmu kita berbanding Allah.Semakin kita mengkaji semakin rasa betapa hebatnya Allah. Semakin kita membaca semakin tersingkap keagungan Allah.Maka akan bertambah tinggi kualiti ibadah kita pada Allah.

Jika semakin jauh kita dari mengingati Allah walaupun kita sudah banyak membaca, mengkaji,dan belajar,maka ada sesuatu yang tidak kena pada niat asal dan cara kita belajar.Jika asbab kita belajar menyebabkan kita sengaja melewat-lewatkan ibadah fardhu maka kita sebnarnya telah tertipu.Kita telah bina 'hijab' ilmu antara kita dengan Allah.Nauzubillah...

Allah...selamatkan diri kami,keluarga kami,sedara-mara kami dan ummat islam seluruhnya samaada yang hidup dan yang telah meninggal dunia dari kemurkaanMu wahai Tuhan yang Maha Pengampun.

Tuesday, September 21, 2010

Ohh Lisan..

Bismillahhirrahmanirrohim.. Alhamdulillah segala puji bagi ALLAH yg tiada ilah boleh disembah melainkanNYA.. selawat serta salam ke atas junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W, para ahlul bait, para sahabat & sahabiah, tabiin, tabi'-tabiin, serata seluruh muslimin & muslimat yg masih istiqomah & istimror dalam memperjuangkan agama yg suci lagi tinggi (islam) hingga ke hari akhir.. insyaALLAH

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan mengikut kemahuan sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami isteri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )

Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas masalahnya dan kapan saja dia ragu terhadap masalahnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas masalahnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak masalahnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas masalahnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama masalahnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”

2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”

3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”

4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”

5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafaz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”

6. Abu Hatim : “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (masaalah) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (masaalah) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”

8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”

(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

Buah Menjaga Lisan

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah Rad. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)

2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

3. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk masuk ke surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d :

“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah Rad. , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah Rad. :

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu a’lam.

Dikutip dari http://asysyariah.com Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi, Judul :Lidah Tak Bertulang

Monday, September 6, 2010

Mana jihad harta kita? atau belum terima telegram dari Allah?

Dengan nama ALLAH yg Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

Alhamdulillah dibulan ramadhan yg mulia ini, suka untuk saya mengajak semua sahabat yg dirahmati Allah untuk menyelusuri kisah benar kehidupan seorg pejuang dijalan Allah.. InsyaALLAH

Pada suatu hari, saya dikunjungi seorang kawan yang amat saya kasihi.. Wajahnya keruh diselaputi kesedihan dan keresahan yang tidak dapat saya duga puncanya.. Dengan rasa cemas saya bertanya: “Apa yang telah terjadi? Anta sakitkah?” Dia menggelengkan kepala. Saya bertanya lagi, meneka sesuatu yang lain pula:

“Ada sesuatu yang berlaku di rumahmu? Anak anta kemalangan? Anta kesuntukan wang?”

Setiap soalan yang saya ajukan, dijawab dengan gelengan kepala. Saya kehilangan idea untuk meneka, apa sebenarnya yang dialami oleh kawan saya ini. Walaupun ditanya bertalu-talu dia enggan menceritakan masalahnya. Namun akhirnya dia akur apabila saya tidak putus-putus mendesak agar dia meluahkan apa yang terbuku di benaknya.

Apabila dia mula membuka bicara, hati saya segera terusik, seluruh tubuh saya bergoncang dan mata saya terbeliak kagum dan terpegun!

Dia berkata:

“Ya akhi, sebenarnya saya memperuntukkan sebahagian daripada pendapatan bulanan saya untuk Allah. Pada setiap bulan, apabila saya menerima gaji, saya terus keluarkan sebagai sedekah dakwah saya. Saya tidak pernah mengabaikannya seperti saya tunaikan perkara yang wajib. Bagi saya ia cukai jihad ke atas saya.”

Saya berkata kepadanya:

“Apa yang anta lakukan itu memang sesuatu yang sangat baik. Saya berdoa mudah-mudahan Allah terima amalmu. Tetapi apa yang merunsingkan anta sekarang?”

Dia menjawab:

“Bulan ini saya terlewat membayar cukai jihad bulanan saya beberapa hari.. Pada hari saya terima gaji, saya terus pulang ke rumah.. Kerana sibuk dengan pelbagai urusan, saya terlupa untuk membayar apa yang saya lakukan setiap bulan.. Beberapa hari berlalu, saya menjadi lebih leka dan lemah semangat.. Pada masa yang sama, gaji yang saya terima semakin berkurangan.”

Saya memberikan pandangan:

“Kalau begitu, anta boleh bayar selepas dua hari, tiga hari, empat hari atau lima hari. Kalau anta kesuntukan wang, kami saudara-saudaramu, sahabat-sahabatmu dan teman-temanmu akan bantu.”

Dia berkata lagi:

“Sesungguhnya semenjak saya menanam azam dalam diri saya dan berjanji akan mengeluarkan sebahagian daripada gaji saya setiap bulan pada hari saya menerimanya, saya akan menerima amaran langsung daripada Allah sekiranya saya terlewat melakukannya. Allah akan mengutus kepada saya telegram berupa amaran dan persoalan, mana hak dakwahmu? Mana jihadmu?

Sekarang, soalan-soalan itu muncul lagi dan berlaku di depan mata ku di atas jasad anak-anakku. Dua hari lepas, yang seorang terkena demam panas membahang, yang lain pula menggigil kesejukan. Kereta aku mula rosak secara tiba-tiba yang tidak aku jangka. Pelbagai masalah yang memerlukan belanja lebih dalam bulan ini berlaku tanpa di jangka. Maka belanja yang terpaksa dikeluarkan untuk dua tiga hari lepas pun meningkat.

Maha Suci Allah! Keadaan akan bertukar. Dengan aku tidak mengeluarkan sedikit daripada gajiku untuk jihad, aku terpaksa menanggung perbelanjaan yang lebih tinggi untuk ubat anakku dan keperluan-keperluan lain. Aku telah terlewat membayar. Maka telegram pun tiba.

Inilah yang mendorong aku segera datang untuk melunaskan tanggungjawabku. Dan itulah sebabnya anta melihat saya sedih dan sugul. Saya telah terlewat membayar bahagian yang diperuntukkan untuk jihad daripada gaji bulanan saya!”

saudara2ku.. adakah kita turut merasa sebegini bilamana Allah melimpahkan rahmat nikmatNya kapada kita??

Saturday, September 4, 2010

Kehebatan Malam Al-Qadr



Dalam tulisan ringkas ini, cuba sama-sama kita hayati beberapa keistimewaan Lailatul Qadar seperti berikut :-

1) Malam berkat yang di turunkan padanya Al-Quran (secara sepenuhnya dari Lawh Mahfuz ke Baytil Izzah di langit dunia sebelum diturunkan kepada Nabi SAW secara berperingkat)

Justeru ia disifatkan sebagai malam penuh berkat dalam ayat 3 surah ad-Dukhaan. Pandangan ini adalah sohih dari Ibn Abbas, Qatadah, Sai'd Ibn Jubayr, ‘Ikrimah, Mujahid dan ramai lagi. (Tafsir Al-Baidawi, 5/157 ; Al-Jami Li Ahkam Al-Quran, Al-Qurtubi, 16/126 )

2) Di tuliskan pada malam tersebut "qadar" atau ketetapan bagi hidup, mati, gembira, rezeki, sihat, sakit dan apa jua berkaitan qadar manusia dan destinasi mereka pada tahun itu.

Ini diambil dari firman Allah s.w.t :-

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

Ertinya : Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul ( Ad-Dukhan : 4-5)

Imam At-Tabari menyebut bahawa pada malam itu, diputuskan hal ajalnya seseorang, rezekinya, kejadiannya. Malah di malam tersebut juga, ditentukan siapa yang berkahwin dengan siapa, nama siapa yang termasuk dalam senarai kematian pada tahun berikutnya, apakah musibah yang akan menimpa dan lain-lain. Ia juga yang dihuraikan oleh Imam Qatadah, Mujahid dan Al-Hassan(Tafsir At-Tabari, 25/108 )

Imam Al-Qurtubi mencatatkan

Ertinya : Berkata Ibn Abbas, Allah s.w.t menghakimi atau menentukan urusan untuk dunia apabila tibanya Laylatul Qadar, dari segala urusan tentang kehidupan (hambanya) atau kematian atau rezeki (Al-Jami Li Ahkam Al-Quran, Al-Qurtubi, 16/126)

Demikian juga yang difahami dari apa yang disebut oleh Ibn Abbas. (Tafsir Ibn Kathir, 137/138). Imam An-Nawawi ada menghuraikan maksud panjang bagi hal ini. (Syarah Sohih Muslim, 8/57). Menurut pandangan yang lain qadar juga membawa bermaksud mulia atau agung.

Adakah kita sudah untuk meninggal dunia hari ini atau sebentar lagi?

Adakah merasa takut untuk menunggu kehadirannya?

Saya selalu cuba menghadirkan perasaan dan persoalan ini dalam minda saya, terutamanya ketika memandu kereta dan menaiki kapal terbang. Terbayang tayar meletup dan kereta terhumban, atau kapal terbang rosak dan menunggu maut hadir sebagaimana yang saya kerap dan suka saya lihat perbincangan mengenainya di dalam rancangan 'Air Crash' terbitan National Geogharphic Channel.

Jika belum merasa sedia, maka apakah sebabnya? Adakah umur yag diberikan belum mencukupi?, atau aqal belum sempurna berfikir untuk menyiapkan persediaan.? Bukankah kita merupakan insan normal yang punyai aqal sihat, malah kita amat marah digelar 'bodoh' oleh orang lain.

Lantas, apakah lagi alasan yang ingin kita sebutkan? Adakah kerana terlalu sibuk mengejar dunia dan leka dengan kenikmatan sementaranya, sehingga tiada masa memikirkan ibadah dan mengetahui perkara halal serta haram.

Justeru, malam Al-Qadr boleh menjadi satu peluang dan ruang untuk berdoa memanjangkan umur dalam ibadah, amal soleh dan rezeki yang baik. Berusahalah.

Sama-sama kita hidupkan malam-malam akhir Ramadhan dengan dengan beribadat sehabis mungkin bagi memastikan yang terbaik buat destinasi hidup kita.

Hanya beberapa hari sahaja untuk bersengkang mata dan melawan nafsu tidur dan rehat. Jika kita punyai cuti yang agak panjang sebelum raya, habiskan ia dengan bacaan Al-Quran dan fahami ertinya. Nafsu 'shopping' dan rehat pasti akan menganggu. Lawani ia, hanya beberapa hari sahaja, paling panjang 10 hari sahaja.

3) Malam ini terlebih baik dari seribu bulan untuk beribadat.

Perlu difahami bahawa para ulama berbeza pandangan dalam pengertian seribu bulan kepada pelbagai takwilan. Cuma Imam At-Tabari selepas membawakan hampir semua pendapat-pendapat semua pihak ia mentarjihkan dengan katanya :-

وأشبه الأقوال في ذلك بظاهر التنزيل قول من قال عمل في ليلة القدر خير من عمل ألف شهر ليس فيها ليلة القدر

Ertinya : Pendapat yang paling tepat dari zahir teks nas yang diturunkan adalah pendapat yang mengatakan erti Seribu bulan adalah "beramal di laylatu Qadr sama dengan amalan seribu bulan yang tiadanya lailatul Qadr ( selain bulan Ramdhan) ( At-Tabari, 30/259)

Imam Malik dalam al-Muwatta' membawakan satu hadis Nabi s.a.w yang memberi makna seribu bulan itu adalah gandaan sebagai ganti kerana umur umat zaman ini yang pendek berbanding zaman sebelum Nabi Muhammad SAW yang amat panjang seperti Nabi Nuh as. (Al-Muwatta, no 698, 1/321 ; Al-Jami' Li Ahkamil Quran, Al-Qurtubi, 20/133 ; Syeikh Atiyyah Saqar, Min Ahsanil Kalam Fil Fatawa, dengan pindaan).

4) Pada malam itu, turunnya para Malaikat dan Ruh (Jibrail as).

Hal ini disebutkan di dalam al-Quran dari surah al-Qadr. Manakala, dalam sebuah hadith disebutkan bahawa pada malam tersebut, malaikat akan turun dan berjalan kepada seluruh individu yang sedang beribadat secara berdiri, duduk, bersolat, berzikir, serta memberi salam kepada mereka dan mengaminkan doa mereka maka Allah akan mengampunkan mereka kecuali empat kumpulan : Peminum arak, penderhaka ibu bapa, pemutus siltarurrahmi dan individu yang sedang bermusuhan.

5) Malam itu juga disebutkan sebagai malam yang sejahtera.

Hinggakan Syaitan juga tidak mampu untuk melakukan kejahatan dalamnya. (Tafsir Ibn Kathir, 4/531 ; Al-Qurtubi, 20/134 ) . Sejahtera dan keberkatan ini akan berterusan sehingga naik fajar dan bukannya pada saat tertentu sahaja. Hal ini juga di sebutkan dari firman Allah dalam surah al-Qadr.

6) Diampunkan dosa terdahulu bagi sesiapa yang menghidupkannya dengan iman, ikhlas dan mengharap redha Allah;

Ia berdasarkan hadith sohih riwayat al-Bukhari dan Muslim. (Fath al-Bari, 4/251)

Hidup kita adalah pendek, panjangkan ia dengan amal jariah dan amalan soleh melebihi seribu bulan.

Sekian

Zaharuddin Abd Rahman

http://www.zaharuddin.net/

Thursday, September 2, 2010

Bagaimana boleh Bertahan??

Ianya boleh di bincangkan bagaimana atau betul dan salahnya. Tapi ia hanya pengalaman dari sunnatullah. Kita berusaha dan orang lain juga berusaha… tak semestinya kita bangga dengan pencapaian kita. Maybe ada formula lain yang lebih baik.

Fasa semasa belajar adalah fasa yang paling kritikal. Di masa itu, ia umpama besi yang berada di leburan atau relaunya. Semasa itulah masa untuk dibentuk oleh apa saja ideologi dan trend. Siapa yang cepat dan mampu bekerja keras dengan menggunakan sunnatullah yang paling tepat, nescaya dia berjaya membentuk seramai mungkin bentuk-bentuk manusia yang ada di dalam masyarakat.

Oleh kerana masa itu pendek dan masa belajarlah saat paling mudah untuk diubah, maka saat itu juga perlu dibentuk ke tahap paling maksima. Maksima dari segi swing kepada Islamnya, maksima dari segi semangatnya, maksima dari segi keinginan dan rasa perlu kepada ilmu. Juga maksima untuk berpisah dari jahiliyyah akidah, perasaan dan kelakuan tingkahlaku.

Berjaya atau tidak semasa pembentukan dan pembenturan semasa fasa menjadi pelajar, itulah yang membentuk keinginan hidupnya semasa selepas belajar. Ingin atau tidaknya untuk meneruskan apa yang difahami dan dipegangi semasa zaman belajar ditentukan banyak oleh ia mencapai tahap lulus atau melepasi ‘area’ gelombang. Selepas gelombang akan ada kawasan tenang dan aman. Sesiapa yang tidak dapat melepasi area gelombang itulah maka ia akan terumbang ambing selepas zaman belajar !



Oleh itu……

Usaha maksima perlu dilakukan semasa zaman belajar….. adakah anda sebagai murabbi/murabbiyah sanggup bertungkus lumus untuk itu? Atau mad’u anda akan meninggalkan anda dengan senyum selepas zaman belajar mereka dan berkata: “terima kasih bang/akak kerana membantu saya ber’halaqah’ semasa saya di IPT….” Tapi lepas kerja ni tengoklah dulu samada saya akan bersama atau tidak……!

Murabbi/murabbiyah nya terkebil-kebil…. di mana silap aku?

Tapi semua hati manusia adalah di dalam kuasa ar-Rahman, di bolak balikkan ke mana yang dikehendakiNya.

Thursday, August 26, 2010

Toilet lebih penting dari Dakwah...

Dengan Nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

Seorang Murabbi mendapati mutarabbinya telah mulai menjauhkan diri daripada usrah, katibah dsb. Bila ditanya kenapa? Disebabkan ‘bisnes’….!

Bisnesnya telah maju dan mulai sibuk menguruskannya saban hari.Tiada lagi ruang untuk menumpukan kepada perkara lain kerana bimbang bisnesnya akan terjejas. Siang dan malam dia akan pastikan semua urusan bisnesnya berjalan lancar.Waktu siang dihabiskan untuk mengawal selia marketnya yang begitu sibuk dengan pelanggan yang berpusu-pusu datang hingga lewat malam, sedangkan waktu malam pula diuntukkan bagi mengemaskini wang yang diperolehi di siang harinya. Begitulah sepanjang-panjang hari dalam seminggu dan bulan.

Murabbinya lantas menziarahinya ke tempat bisnes. Dia menyambut dengan baik tetapi diselaputi kerisauan yang mendalam, bimbang akan ditanya perihalnya dengan dakwahnya. Akhirnya dia berterus terang saja dengan memberi alasan bahawa dia tidak mampu untuk membiarkan urusan bisnesnya diurus oleh pekerja-pekerjanya tanpa pemantauan daripadanya sendiri. Dia perlu sentiasa bersama pekerja-pekerjanya pada setiap masa.

Murabbi yang bijaksana telah bertanya…”Sedang saudara memantau pekerja-pekerja saudara keluar masuk melaksanakan kerja mengikut yang disuruh, tiba-tiba perut saudara sakit dan perlu segera ke toilet bagi melegakannya; apa yang saudara akan lakukan?” Dia menjawab sudah tentu saya akan ke toilet dengan segera kerana itu adalah keperluan mendesak yang tidak boleh dikompromi…..makruuf yang akhi… Murabbinya lantas menyatakan: “Kalau demikian halnya, saudara telah menjadikan amal dakwah ini kurang pentingnya berbanding urusan saudara ke toilet…Ke toilet saudara kata penting dan perlu…kerananya bisnes mesti ditinggalkan. Tahukah saudara yang selama ini saudara telah meletakkan amal dakwah ini lebih rendah daripada martabat urusan saudara ke bilik air/tandas????”

Dengan jawapan Murabbinya, dia insaf dan kembali meletakkan dakwahnya di tempatnya yang paling tinggi dalam hidupnya. Sejak hari itu dia tidak lagi menguzurkan dirinya daripada menghadirkan dirinya ke program-program dakwah dan tarbiahnya…. Semoga ia menjadi pengajaran bagi kita semua insyaAllah…

petikan dari : http://abuamru1208.blogspot.com/

Tuesday, August 17, 2010

Kata-kata Mutiara

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

Nabi Muhammad SAW

Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Nabi Muhammad SAW

Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia.

Nabi Muhammad SAW

Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.

Nabi Muhammad SAW

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.

Imam Al Ghazali


Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.

Khalifah ‘Umar

Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan.

Ibnu Mas’ud

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.

Khalifah ‘Ali

Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah.

Ibnu Mas’ud

Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu.

Khalifah ‘Ali

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.

Khalifah ‘Umar


Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.

Imam An Nawawi

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.

Khalifah ‘Umar

Dia yang menciptakan mata nyamuk adalah Dzat yang menciptakan matahari.

Bediuzzaman Said Nursi

Penderitaan jiwa mengarahkan keburukan. Putus asa adalah sumber kesesatan; dan kegelapan hati, pangkal penderitaan jiwa.

Bediuzzaman Said Nursi

Kebersamaan dalam suatu masyarakat menghasilkan ketenangan dalam segala kegiatan masyarakat itu, sedangkan saling bermusuhan menyebabkan seluruh kegiatan itu mandeg.

Bediuzzaman Said Nursi

Menghidupkan kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan.

Bediuzzaman Said Nursi

Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. Dan seseoran yang memiliki pikiran yang baik mendapatkan kenikmatan dari hidup.

Bediuzzaman Said Nursi

Tuesday, July 13, 2010

Jujur...

Assalamualaikum wbt..

Alhamdulillah Ya ALLAH, masih diberi kekuatan untuk terus bertinta dan berkongsi ilmu yg saya dapat dengan sahabat2 dirahmati Allah s.w.t.. apa khabar sahabat2ku?? moga sentiasa diredhai dan diberkahi olehNYA selalu.. amin



sahabat, apa itu jujur?? jujur adalah kata2 yg benar dan sejajar dengan amalan kita..
senang cerita, apa yg kita cakap, itulah yg akan kita lakukan.. insyaALLAH.. untuk memperoleh iman yg sempurna, kita haruslah jujur dimana ALLAH berfirman:

Diantara org2 mukmin itu ada org2 yg menepati apa yg telah mereka janjikan pada Allah.. Dan diantara mereka ada yg gugur, dan diantara mereka pula ada yg menanti-nanti dan mereka tidak sedikitpunmengubah janjinya..(Al-Ahzab:23)

bagaimana ya, untuk menjadi seorang yg jujur??
Allah berfirman:

Wahai org2 yg beriman!! bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan org2 yg benar..(At-Taubah:119)

benarlah kata2 Allah, dimana utk menjadi hambaNYA yg jujur, kita hendaklah mendampingi org2 yg jujur.. Syukur Ya Allah, kerana kau telah mempertemukan hamba dengan insan2 yg sentiasa mengingatiMU dan mengajak hamba untuk lebih dekat denganMU.. terima kasih Ya Allah..

Rasulullah s.a.w bersabda, jujur dan iman ibarat isi dengan kuku.. tidak sesekali bisa dipisahkan.. pada suatu hari, baginda didatangi oleh seseorang.. lalu, orang itu bertanya 3 soalan kpd rasulullah.. pertama, adakah orang beriman bisa jadi pengecut?? Rasulullah menjawab, ya.. kedua, adakah org beriman bisa jadi bakhil??
Rasulullah menjawab, ya.. akhir sekali, orang itu bertanya adakah orang beriman seorang pendusta?? Rasulullah menjawab, TIDAK..

Ya ALLAH, jauhkanlah lisan kami dari terus melakukan pembohongan sama ada dalam keadaan sedar atau tidak sedar.. sesunnguhnya engkaulah yg Maha berkuasa atas segalanya..

balasan org yg jujur adalah syurga dimana Rasulullah bersabda org yg jujur akan mendapat satu kebaikan dan balasan terhadap kebaikan adalah syurga..
Ibnu Abbas berkata, seseorg itu akan beruntung di dunia dan di akhirat apabila memiliki sifat malu, syukur, jujur dan beraklak baik..

lima tingkatan jujur:

1) jujur lidah
2) jujur niat dan kemahuan
3) jujur keazaman
4) jujur dalam menunaikan janji
5) jujur dalam amal (As-Saff:2-3)

orang yg jujur akan memperoleh:
1) ketenangan hati
2) pendapatan yg diperoleh adalah barokah, terutamanya dalam aktiviti jual beli
3) berjaya memperolehi kedudukan syuhada' (H.R. Muslim)
4) bersama org2 soleh di syurga
5) mencapai kedudukan golongan shiddiqin

diharuskan berbohong:
1) apabila menghadapi musuh
2) jadi orang tengah untuk damaikan 2 belah pihak
3) perbualan suami isteri untuk tingkatkan kebahagiaan

sekian sahaja untuk kali ini.. ikhlas dari hambaNYA yg masih dalam proses memperbaiki diri.. ayuh sama2 kejar tarbiyah.. wallahua'lam

Monday, July 5, 2010

Ayuh Syabab = Bangkitlah Wahai Pemuda

Assalamualaikum wbt..

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yg telah menciptakan kita semua sebagai ummat terbaik dibumi wakafan ini.. selawat serta salam moga tetap dicurahkan ke atas murobbi teragung & qudwah hasanah, Rasulullah S.A.W.. salam kemuliaan juga buat ahlul bait, para sahabat-sahabiah, tabi'in, tabi'-tabi'in, mujahid-mujahidah, serta muslimmin-muslimat yg masih tsabat/ istiqomah/ istimrar memperjuangkan kalimah haq lailahaillallah sehingga hari akhir.. insyaALLAH

Kali ini, sebagai satu seruan buat saya sendiri dan juga buat sekalian pemuda atau mereka yang masih mahu menggelarkan diri mereka sebagai PEMUDA, yang bertebaran di atas muka bumi ini. Sebut sahaja pemuda, apa yang tergambar adalah satu figure yg memiliki susuk tubuh yang kental dan semangat yang berkobar. Ya, secara asasnya itu adalah pemuda. Ciri-ciri fizikalnya begitu. Maka dengan elemen yang ada itu, pemuda cukup pantang menyerah sebelum ajal. Kembali kepada sejarah, pemuda adalah teras kepada satu kebangkitan dan pintu kepada kegemilangan. Sama ada pemimpin sekular, komunis, duniawi, mahupun pemimpin dengan teras agama, semua meyakini akan kekuatan dan kepentingan pemuda ini. Itulah sebabnya, semenjak dahulu lagi, pemuda menjadi tiang pasak kepada sebuah masyarakat, tamadun, dan peradaban. Mereka merupakan rahsia kekuatan mana-mana kebangkitan, malahan angkatan pemuda jugalah yang menjadi barisan penjulang panji-panji bagi sesuatu fikrah perjuangan.

Allah berfirman:
Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman dengan Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.(Al-Kahfi:13)



Pemuda pada masa kini, lahir ditengah-tengah masyarakat yang rosak. Ibarat barah yang semakin hari semakin kronik. Lihat sahaja di sekeliling kita. Jika pada umur 13 tahun, sudah boleh bunting hasil perkongsian haram, tidak rosak jadinya? Jika lelaki dan perempuan, muda-mudinya bebas melakukan apa sahaja, tanpa segan silu, tidak haru biru lagaknya? Jika rasuah menjadi-jadi dan janji-janji pemimpin hanya tinggal janji, tidakkah menyusahkan rakyat namanya? Apatah lagi apabila Al-Quran dan sunnah jauh dari diri, kita lupa matlamat sebenar kita wujud ke dunia ini.

Maka, haruskah kepekatan malam yang panjang ini dibiarkan terus begitu? Bila dan bagaimana mahu disinarkan kembali cahaya Syahadah? Siapa mahu melaksanakannya. Masyarakat ini perlu diubati tentunya. Itu satu kemestian. Jika orang yang demam diberi penawar, masakan masyarakat yang sakit dan rosak ini hendak dibiarkan begitu sahaja. Pemuda adalah jawapannya. Sirah telah menunjukkan segalanya. Teras kepada kejayaan dakwah nabi kerana kesungguhan pemudanya seperti Ali, Suhaib Ar-rumy, Salman Al-Farisi, Mus’ab bin Umair dan ramai lagi tokoh pejuang agama era sahabat terdiri daripada pemuda. Meski Abu Jahal itu pemimpin utama, namun bukan dia yang menjadi teras agama ini. Mahu Allah tunjuk kepada kita, memang pemuda menjadi teras dan pengubat buat agama ini.

Allah berfirman:

Kamulah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk memimpin umat manusia: iaitu kamu menyuruh berbuat kebaikan, dan kamu menegah dari kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah. (Al-Imran : 110)

Ayat daripada surah ini harus dihayati pemuda hari ini. Buka sejenak minda dan lapangkan hati kita. Allah menjelaskan bahawa sesungguhnya kita adalah sebaik-baik umat. Kita makhluk terbaik di alam ini. Kita termulia. Kebaikan dan kamuliaan ini bukan dikurniakan kerana kayanya kita atau kerana besarnya pangkat atau hebat pekerjaan yang dimiliki. Mulia kita, kerana kita menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran, serta hidup dalam keadaan beriman kepada Allah. Ini matlamat hidup dan tujuan kejadian manusia yang mahu Allah ingatkan buat kita dan mahu kita beramal dengannya. Hidup ini tidak lama. Akhirat itu pasti akan kita laluinya. Itu hari perhitungan dan pembentangan amal yang kita laksanakan di dunia ini. Maka apabila kita tahu akhirat itu pasti, mengapa tidak mahu kita bersedia kearahnya? Apa yang mahu kita persembahkan nanti? Anak-anak, kereta besar, pangkat, jawatan, duit, senjata, rumah, harta, dan pelbagai lagi nikmat alam ini sudah tidak bermakna lagi. Hanya amal kita berdasarkan apa yang Allah mahu akan dinilai dan diterima. Apa yang Allah mahu? Ayat di atas tadi menceritakan segalanya.

Ambil masa yang ada dan renungi kembali akan hari-hari yang telah berlalu itu. Berapa banyak telah dihabiskan untuk beramal dan berapa banyak yang tersia-sia. Bangkitkan roh dan semangat kita berteraskan kesyumulan Islam ini wahai pemuda. Moga kita bisa menjadi satu ejen perubah buat umat yang kian tenat ini.

p/s : Usah terus terleka.

Salam mujahadah.